Tokoh Pejuang Kubah Masjid Enamel di Surabaya

Tokoh Pejuang Kubah Masjid Enamel di Surabaya

Tokoh Pejuang Kubah Masjid Enamel di Surabaya

Pada zaman dahulu penyebaran agama Islam tidaklah mudah. Saat Islam pertama kali memasuki negara kita Indonesia ini. Banyak pertentangan dari para penduduk pribumi yang masih menganut kepercayaan hindu. Karena hal itulah Kubah Masjid Enamel masih sangat jarang untuk bisa ditemui pada masa awal awal itu.

Guru pertama Ali Syari’ati yaitu Taqi Syari’ati, ayahnya sendiri, yang mengambil keputusan untuk mengajar di Kubah Masjid Enamel kota Surabaya. Ali Syari’ati lahir 23 November 1933, di desa Mazinan, pinggir kota Masyahad serta Sabzavar, Propinsi Khorasa, Iran. Desanya ada di pinggir gurun pasir Dasht-I Kavir, di samping Timur Laut Iran. Dia lahir dari keluarga ulama. Ayahnya, Muhammad Taqi Syari’ati yaitu seseorang ulama yang memiliki silsilah panjang keluarga ulama dari Masyhad. Kota pemakaman Imam Ali Ridha, Imam ke delapan dari keyakinan Islam Syi’ah.

Pada th. 1940, Syari’ati mulai bersekolah di Sekolah Basic Negeri, yang bukanlah sekolah agama. Serta th. 1950 ia meneruskan pendidikan ke Sekolah Pendidikan Guru Kubah Masjid Enamel sepanjang dua th.. Th. 1956, Syari’ati meneruskan studi di Fakultas Sastra Kampus Masyhad. Serta di th. 1959, Syari’ati berhasil lulus jadi sarjana Fakultas Sastra Unibersitas Masyhad dengan posisi pertama di kelasnya. Th. 1960, Syari’ati memperoleh beasiswa dari pemerintah Iran serta meneruskan pendidikan Kubah Masjid Enamel tingkat sarjana di Kampus Sorbonne, Prancis. Syari’ati jadi asisten penelitian Massignon (Islamolog Prancis) th. 1960-1962 untuk menterjemahkan dokumen berbahasa Persia, dalam menulis biografi putri Nabi Muhammad, Fatimah. Ditempat yang sama, pada th. 1963-1964 Syari’ati menyerap pikiran sosiologi Islam dari Jacques Berque. Serta ia juga pada akhirnya berhasil mencapai titel doktor di bagian Sosiologi serta Filsafat Histori Islam pada th. 1964.

Pada th. 1962-1963, dia repot dengan kegiatan politik serta jurnalistik. Ia juga jadi redaktur jurnal Iran-e Azad (free Iran) yang dibangun organisasi Pergerakan Nasional Anti-Syah di Eropa. Pergerakan yang menuntut pembebasan Iran (Liberation Movement of Iran). Th. 1965, sesudah memperoleh titel Doktor, Syari’ati di terima jadi asisten profesor di Kampus Masyhad. Ia juga mengajar di tiga SMU dalam rencana membangun instansi pendidikan di samping Kubah Masjid Enamel. Pada th. 1967, dia jadi dosen Histori Islam di Fakultas Sastra Kampus Masyhad. Jadi sosiolog muslim, Syari’ati seringkali berdiskusi dengan mahasiswanya membahas problem yang dihadapi Golongan Muslim berdasar pada prinsip-prinsip Islam. Karna pemikiran baru itu, Rezim Syah Iran hentikan kesibukan mengajarnya Kubah Masjid Enamel, serta pada th. 1968 ia dipensiunkan dari Kementrian Pendidikan di usianya yang baru 35 Th.. Dengan ganti nama resminya Muhammad Ali Mazinani, jadi Ali Syari’ati supaya tidak terdeteksi serta dapat maju ke luar negeri. Juni 1977, Pouran, istri Syari’ati bersama tiga putrinya akan menyusul ke London. Tetapi, sesudah menjemput serta membawa mereka kesebuah tempat tinggal yang sudah disewa Syari’ati di daerah Southampton, Inggris pagi 19 Juni 1997, Syariati diketemukan tewas di Southampton, Inggris. Pemerintah iran menyebutkan Syari’ati tewas karena penyakit jantung, namun banyak yang yakin kalau dia dibunuh oleh polisi rahasia Iran. Syari’ati pada akhirnya dikuburkan di Damaskus, Suriah. Pada 27 Juni 1977.