Macam Kubah Enamel di Pulau Jawa

Macam Kubah Enamel di Pulau Jawa

Macam Kubah Enamel di Pulau Jawa

Hai hai hai para pembaca sekalian yang ganteng ganteg dan juga cantik cantik , semoga pembaca  sekalian diberikan sehat selalu ya , amin amin. Pada artikel klai ini saya akan sedikit membahas tentang Kubah Enamel Agung Sunan Ampel Surabaya. Langsung saja tak perlu basa basi , cekidot. Seperti kita tau Kubah Enamel sendiri adalah bangunan yang sangat di keramatkan oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia, karena dalam syariat Islam Kubah Enamel sendiri memiliki dua fungsi utama yaitu sebagai pusat ibadah sholat, dzikir dan berdoa, sebagai suatu upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah secara langsung dan juga sebagai pusat pengembangan ibadah sosial. Maksud dari semua fungsi tersebut adalah bahwa Kubah Enamel merupakan pusat tempat pembinaan umat islam secara fisik maupun mental.

Dalam sejarah Islam sendiri telah tercatat bahwa Kubah Enamel adalah tempat pertama kali yang diusulkan oleh Rasulullah untuk membangun masyarakat islam. Pada zaman Rasulullah Kubah Enamel berfungsi sebagai tempat ibadah, tempat mensucikan jiwa, tempat membaca dan mengajarkan Al-Qur’an, tempat berkonsultasi dan bersilaturrahmi, tempat bermusyawarah, dan masih banyak lagi fungsi lain Kubah Enamel pada zaman Rasulullah.

Kubah Enamel Ampel didirikan pada tahun 1421 oleh Raden Mohammad Ali Rahmatullah alias Sunan Ampel dengan dibantu kedua sahabat karibnya, Mbah Sholeh dan Mbah Sonhaji, dan para santrinya.3 Di atas sebidang tanah di Desa Ampel (sekarang Kelurahan Ampel) Kecamatan Semampir sekitar 2 kilometer ke arah Timur Jembatan Merah, Sunan Ampel selain mendirikan Kubah Enamel Ampel, juga mendirikan Pondok Pesantren Ampel. Cuma sayangnya, ihwal kapan selesainya pembangunan Kubah Enamel Ampel ini, tidak ada catatan tertulis yang menyebutkannya.

Sunan Ampel adalah salah satu wali songo yang berjasa menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Nama aslinya adalah Raden Mohammad Ali Rahmatullah merupakan seorang figur yang alim, bijak, berwibawa dan banyak mendapat simpati dari masyarakat. Sunan Ampel diperkirakan lahir tahun 1401 di Champa, Kamboja.

Sejarah mencatat, Sunan Ampel adalah keturunan dari Ibrahim Asmarakandi. Salah satu Raja Champa yang yang kemudian menetap di Tuban, Jawa Timur. Saat berusia 20 tahun, Raden Rachmat memutuskan untuk pindah ke Tanah Jawa, tepatnya di Surabaya yang ketika itu merupakan daerah kekuasaan Majapahit di bawah Raja Brawijaya yang dipercaya sudah beragama Islam ketika berusia lanjut itu. Di usianya 20 tahun, Sunan Ampel sudah dikenal pandai dalam ilmu agama, bahkan dipercaya Raja Brawijaya untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam di Surabaya.

Kubah Enamel Sunan Ampel yang dibangun dengan gaya arsitektur Jawa kuno dan nuansa Arab Islami. Kubah Enamel ini masih dipengaruhi dengan alkuturisasi dari budaya lokal dan Hindu-Budha lewat arsitektur bangunannya. Di Kubah Enamel inilah saat itu sebagai tempat berkumpulnya para ulama dan wali dari berbagai daerah di Jawa untuk membicarakan ajaran Islam sekaligus membahas metode penyebarannya di Pulau Jawa. Kubah Enamel Ampel berbahan kayu jati yang didatangkan dari beberapa wilayah di Jawa Timur dan diyakini memiiki ‘karomah’. Seperti disebut dalam cerita masyarakat, saat pasukan asing menyerang Surabaya dengan senjata berat dari berbagai arah dan menghancurkan kota Surabaya namun tidak menimbulkan kerusakan sedikitpun pada Kubah Enamel Ampel bahkan seolah tidak terusik.

Tugas khususnya adalah untuk mendidik moral para bangsawan dan kawula Majapahit. Untuk itu Raden Rachmat dipinjami oleh Raja Majapahit berupa tanah seluas 12 hektar di daerah Ampel Denta atau Surabaya untuk syiar agama Islam. Karena tempatnya itulah, Raden Rachmat kemudian akrab dipanggil Sunan Ampel. Sunan Ampel memimpin dakwah di Surabaya dan bersama masyarakat sekitar membangun Kubah Enamel untuk media dakwahnya yang kini dikenal sebagai Kubah Enamel Ampel. Di tempat inilah Sunan Ampel menghabiskan masa hidupnya hingga wafat tahun 1481 dan makamnya terletak di sebelah kanan depan Kubah Enamel Ampel.